Nama : Reggi Okky Riswara
Kelas : 1IC10
NPM : 28414998
1. Pemuda dan sosialisasi
1.1 Pengertian Pemuda
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam –
macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena
pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan
perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet
pembangunan.
Di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial.
Kedudukannya yang strategis sebagai penerus cita – cita perjuangan bangsa dan
sumber insani bagi pembangunan bangsanya.
1.2 Pengertian Sosialisasi
Pengertian sosialisasi mengacu pada suatu proses belajar seorang individu
yang akan mengubah dari seseorang yang tidak tahu menahu tentang diri dan
lingkungannya menjadi lebih tahu dan memahami. Sosialisasi merupakan suatu
proses di mana seseorang menghayati (mendarahdagingkan – internalize)
norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah diri yang unik, karena
pada awal kehidupan tidak ditemukan apa yang disebut dengan “diri”.
1.3 Internalisasi Belajar Dan Sosialisasi
Kedua kata atau istilah internalisasi dan Sosialisasi pada dasarnya memiliki
pengertian yang hampir sama. Proses berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi
sosial. Istilah internalisasi lebih ditekankan pada norma-norma individu yang
menginternalisasikan norma-norma tersebut, atau proses norma-norma
kemasyarakatan yang tidak berhenti sampai institusional saja, akan tetapi norma
tersebut mendarah daging dalam jiwa anggota masyarakat. Norma tersebut dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu norma yang mengatur pribadi (mencakup norma
kepercayaan dan kesusilaan) dan norma yang mengatur hubungan pribadi (mencakup
kaidah kesopanan dan kaidah hukum).
Internalisasi adalah perubahan dalam masyarakat.
Sedangkan sosialisasi adalah suatu proses yang mempelajari tentang
norma-norma masyarakat yang akan membentuk keperibadiannnya di lingkungan
masyarakat. Jadi jika tidak adanya Internalisasi dan Sosialisasi di dalam lingkungan
masyarakat, maka tidak akan ada perubahan dilingkungan itu.
1.4 Proses Sosialisasi
Melalui proses sosialisasi, seseorang akan terwarnai cara berpikir dan
kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan
dapat diramalkan. Dengan proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana
ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan
budayanya. Dari keadaan tidak atau belum tersosialisasi, menjadi manusia
masyarakat dan beradab. Kedirian dan kepribadian melalui proses sosialisasi
dapat terbentuk. Dalam hal ini sosialisasi diartikan sebagai proses yang
membantu individu melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup
dan bagaimana cara berpikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam
kelompoknya. Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari
anggota masyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial.
Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan
sosial yang bersangkutan. Berbeda dengan inkulturasi yang mementingkan
nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan dalam jiwa individu, sosialisasi di
titikberatkan pada soal individu dalam kelompok melalui pendidikan dan
perkembangannya. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian
dan kepribadian seseorang. Kedirian (self) sebagai suatu produk sosialisasi,
merupakan kesadaran terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi orang
lain di luar dirinya. Kesadaran terhadap diri sendiri membuat timbulnya sebutan
“aku” atau “saya” sebagai kedirian subyektif yang sulit dipelajari.
Ada 2 teori proses sosialisasi yang paling umum digunakan, yaitu teori
Charles H. Cooley dan teori George Herbert Mead.
Teori Charles H. Cooley lebih menekankan pada peran interaksi antar manusia
yang akan menghasilkan konsep diri (self concept). Proses pembentukan konsep
diri ini yang kemudian disebut Cooley sebagai looking-glass self terbagi
menjadi tiga tahapan sebagai berikut.
” Seorang anak membayangkan bagaimana dia di mata orang lain.”
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling
pintar karena sang anak memiliki prestasi dan sering menang di berbagai lomba.
“Seorang anak membayangkan bagaimana orang lain menilainya.”
Dengan perasaan bahwa dirinya hebat, anak membayangkan pandangan orang lain
terhadap dirinya. Ia merasa orang lain selalu memujinya, selalu percaya pada
tindakannya. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orang lain terhadap dirinya.
Misalnya, orang tua selalu memamerkan kepandaiannya.
“Apa yang dirasakan anak akibat penilaian tersebut”
Penilaian yang positif pada diri seorang anak akan menimbulkan konsep diri yang
positif pula.
Semua tahap di atas berkaitan dengan teori labeling, yaitu bahwa seseorang akan
berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan penilaian orang terhadapnya. Jika
seorang anak di beri label “nakal”, maka ada kemungkinan ia akan memainkan
peran sebagai “anak nakal” sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, meskipun
penilaian itu belum tentu benar
Tugas ISD pemuda dan sosialisasi
1.5
Permasalahan pada remaja dan Anak kecil
Sering kita lihat banyak sekali banyak
sekali anak remaja dan anak kecil sekarang berperilaku negative contohnya dalam
percintaan banyak sekali anak remaja, yang berpacaran layaknya orang dewasa dan
bahkan cenderung ke perilaku seks bebas, banyak sekali anak remaja sekarang
yang sudah melakukan hubungan seksual padahal mereka belum cukup umur untuk
berbuat hal seperti itu, itu disebabkan karena pengaruh dari melihat nonton
porno, yg mereka lihat dari handphone atau pun di internet, dan juga pada saat
mereka nonton tv, kebanyakan tv di Indonesia hampir semuanya film tentang
bertemakan cinta, contohnya yaitu jelek-jelek seringgalak saya sedikit
plesetkan , meskipun bercerita tentang serigala dan vampire tapi itu banyak
sekali adegan yang tidak pantas untuk di pertontonkan seperti adegan sebut saja
Diego dan sasa pacaran, itu sangat tidak pantas untuk di pertontonkan di depan
public seperti itu, masalah berikutnya yaitu anak remaja yang mulai kurang aja
kepada orang tua atau orang yang lebih tua, dan juga dalam beretika saat naik
kendaraan, banyak sekali anak remaja yang masih tidak tau etika saat
berkendara, contoh banyak anak remaja yg sudah naik kendaraan padahal belum
cukup umur, dan juga banyak anak remaja pada saat berkendara naiknya melebihi
muatan jadi naiknya bertigaan, dan masih ada anak yang berkendara sesuka hati,
sering kebut-kebutan dijalan raya tanpa menggunakan alat keselamatan,
selanjutnya banyak remaja yang udah merokok padahal mereka belum cukup umur
untuk merokok dan hebatnya banyak remaja yang secara blak-blakan di tempat umum
merokok.
1.6 Peranan orang tua dan
masyarakat sekitar
Peran orang tua dan masyarakat dengan
kenakalan remaja yang semakin menjadinya kenakalan remaja yang akan dapat
menghancurakan generasi muda Indonesia, ada baiknya sebagai orang tua memberi
batasan pada anak pada saat menonton tv, dan juga menjaga anak saat membuka
browser yang negative agar tidak terjadi perilaku seksual pada anak,orang tua
juga harus memberikan perhatian lebih pada anak agar anak tidak mempunyai prilaku
kriminalitas, sangat diperlukan juga peran masyarakat yang melihat perilaku
remaja yang sudah melewati batas, ada baiknya menegur anak tersebut supaya
tidak melakukan hal itu lagi.
Sarana tempat hiburan tumbuh pesat bak
“jamur di musim hujan” warnet, playstation, atau arena hiburan ketangkasan
lainnya, hanyalah tempat bagi anak-anak dan generasi muda membuang waktu secara
percuma karena menarik perhatian dan waktu mereka yang semestinya diisi dengan
lebih banyak untuk belajar, membaca buku di perpustakaan, berorganisasi atau
mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih positif. Lebih baik orang tua
memberikan kegiatan yang bermanfaat mengajak anak ke arena outbound agar anak
lebih kreatif dan agar tau tentang alam.
Sumber referensi : http://yuvitatjhang.wordpress.com/2013/10/19/isd-bab-4-pemuda-dan-sosialisasi/
0 komentar:
Posting Komentar